Dampak Covid-19 terhadap Kehidupan Sosial Masyarakat
Menurut Ketua WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam suatu pertemuan di Jenewa seperti dikutip AFP, Selasa (11/2/2020), “Covid-19” merupakan singkatan dari ‘Co’ yang artinya ‘Corona’, ‘Vi’ yaitu ‘virus’, dan “d” untuk ‘disease’ artinya penyakit, sedangkan “19” adalah tahun penemuannya di Kota Wuhan, Cina, pada 31 Desember 2019.
Menurut beberapa
referensi, virus corona atau Covid-19 menyerang sistem pernapasan
manusia. Mungkin kita pun masih ingat pada kerabat virus ini beberapa tahun lalu
sebagai penyebab SARS dan MERS yang dinyatakan berasal dari hewan, lalu menular
ke manusia. virus corona ini tergolong sadis karena dapat mematikan atau dapat
menyebabkan luka permanen pada paru-paru pasien yang sudah terinfeksi dan
sembuh. Secara umum bila ada yang mengalami demam, flu, batuk, dan
sesak napas dalam batas waktu tertentu ini adalah suatu gejala penyakit
Covid-19, maka harus ada kewaspadaan dan kerja sama yang baik dengan keluarga
atau rekan kerja selama beraktivitas di dalam rumah, di ruang kerja, dan di
dalam lingkungan masyarakat.
Keberadaan Covid-19 yang
mematikan ini telah banyak menyita perhatian dunia. Ada yang menanganinya
dengan sangat serius, ada pula yang seolah-olah tak mau tahu, tapi karena hari
demi hari penyebarannya semakin banyak, maka langkah konkret yang harus
ditempuh sebagai antisipasi adalah membangun kerja sama yang baik dengan
keluarga, rekan kerja, dan pihak pihak terkait. Penyakit Covid-19 telah
menggerakkan para kepala negara untuk cepat tanggap dan peduli atas keselamatan
rakyatnya. Hal ini dapat kita lihat dari berbagai pengumuman untuk meliburkan
sekolah, meniadakan kuliah tatap muka, larangan terlibat dalam keramaian,
termasuk larangan ke luar negeri, baik untuk umrah, rekreasi, ataupun hanya
untuk kunjungan biasa.
Peraturan atau kebijakan yang
telah ditetapkan oleh pemerintah tentu sangat berpengaruh terhadap segala
sektor, termasuk perekonomian dan kehidupan sosial dalam masyarakat.
Berdasarkan informasi di media ini beberapa hari lalu bahwa lebih kurang 50 juta
orang terancam kehilangan pekerjaan akibat dampak dari pandemi virus corona
(Covid-19), sulit untuk dibayangkan bila terjadi pengangguran maka masalah
sosial akan terus bermunculan. Namun, semua itu perlu digarisbawahi bahwa apa
pun yang dilakukan pemerintah adalah sebagai bentuk kepedulian terhadap
rakyatnya, karena mencegah itu lebih baik daripada mengobati.
Selain itu, dampak pengaruh
virus corona (Covid-19) dalam kehidupan sosial masyarakat, di
antaranya adalah timbulnya rasa curiga dan hilangnya kepercayaan terhadap
orang-orang yang ada di seputaran kita atau yang baru kita kenal. Sebagai
contoh pada saat kita membeli makanan, baik di warung yang berlabel maupun kaki
lima kita pasti akan mencari tahu apakah bersih atau tidak. Apakah pelayan
ada bersentuhan dengan orang yang terjangkit virus atau tidak, adakah petugas
atau pelayan yang mencuci tangan pada saat mengolah atau memproses makanan yang
kita pesan atau tidak, sehingga timbul keraguan. Pada saat kita berbicang atau
berjumpa baik di lingkungan kantor maupun di lingkungan rumah dan dengan
masyarakat setempat kita pun enggan berjabat tangan, meskipun mereka adalah
orang tua, sebagaimana yang kita ajarkan kepada anak-anak kita untuk selalu
menghormati yang lebih tua. Namun, situasi saat ini mengharuskan kita untuk
menghindari berjabat tangan dan harus menjaga jarak ± 2 meter bila ingin
berbicara dengan orang lain, apalagi orang yang tidak kita kenal.
Untuk mematuhi imbauan dalam
pertemuan atau rapat mengharuskan kita memakai masker, tapi di sisi lain ada
juga yang tidak menggunakan masker, bahkan batuk sembarangan, hal ini tentu
menimbulkan kecurigaan, kita pun terkadang cepat menghindar. Masalah ini tentu
akan membuat yang bersangkutan merasa tersinggung, apalagi kalau ada yang
mengatakan bahwa itu corona, rekan kerja tentu langsung meninggalkan atau
menjauhinya. Virus corona (covid-19) telah melumpuhkan perekonomian dunia,
termasuk Indonesia, sebagaimana terlihat dalam kehidupan sehari-hari di
kalangan menengah ke bawah seperti pedagang kelontong, penjual ikan, dan
pedagang sayur. Mereka merasakan menurunnya daya beli masyarakat karena
ketidaknyamanan para konsumen dalam berbelanja.
Lain lagi kisah seorang sopir yang
biasanya dapat memenuhi kebutuhan keluarganya, tetapi dengan merebaknya kasus
virus corona ini masyarakat enggan menggunakan transportasi umum. Imbauan
pemerintah untuk lockdown atau karantina mandiri di rumah masing-masing dengan
meliburkan aktivitas tatap muka di sekolah, perguruan tinggi, dan perkantoran
tidak semua mematuhinya, bahkan ada yang menggunakan waktu karantina mandiri
untuk menikmati liburan. Hal ini tentu menjadi masalah bukan hanya untuk diri
sendiri, tetapi juga masyarakat, maka sangat dibutuhkan kesadaran akan
keselamatan diri dan lingkungan.
Sejak diberlakukannnya peraturan tidak dibenarkan ada kumpulan keramaian
seperti di masjid, maka hampir semua masjid pada saat shalat berjamaah
hanya beberapa orang yang hadir, sehingga masjid tampak sepi. Situasi ini
menimbulkan kegelisahan apakah semua larangan yang telah ditetapkan semuanya
bermanfaat karena di satu sisi sebagai umat Islam, apabila di masjid
tidak ada lagi orang yang shalat berjamaah, tidak ada lagi pengajian, tak
terdengar lagi zikir, maka tanpa sadar kita telah meninggalkan modal
menuju akhirat. Bukankah dengan adanya musibah kita seharusnya semakin memenuhi
masjid untuk berzikir dan berdoa? Kegiatan yang dilaksanakan di
masjid tentu bagi yang merasa dirinya sehat dan untuk pencegahan virus
corona ini bila perlu pemerintah juga memasang alat pengukur suhu tubuh ketika
memasuki masjid.
Menghadapi musibah Covid-19
bukan hanya para medis yang berperan, tetapi juga hendaknya pemerintah mengajak
para ulama dan pemuka agama untuk ikut berperan aktif, sehingga masyarakat
merasa tenang dan tidak dihantui oleh berita-berita yang menakutkan.
Peran
serta keluarga dengan memberikan pemahaman dan penanganan yang baik kepada
anggota keluarga menjadi faktor utama dalam keberhasilan pencegahan Covid-19.
Akhirya,
kita pasti akan kembali kepada Allah, Sang Pencipta. Jika waktu itu telah tiba
maka tak seorang pun mampu mencegahnya. Namun, sebagai manusia kita harus
berusaha untuk terhindar dari penyakit dan menjaga umur dengan baik.
sumber : https://aceh.tribunnews.com/2020/03/21/pengaruh-corona-terhadap-kehidupan-sosial-masyarakat
https://www.youtube.com/watch?v=HKb1DX7V-pY
sumber : https://aceh.tribunnews.com/2020/03/21/pengaruh-corona-terhadap-kehidupan-sosial-masyarakat
https://www.youtube.com/watch?v=HKb1DX7V-pY